Pendidikan Karakter



 


 


ANALISIS KEBUTUHAN PENDIDIKAN KARAKTER
DI SD INPRES 1 TALISE





SKRIPSI





Oleh
Siti Aisah
Stb: A. 401 08 092







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
AGUSTUS, 2012



 BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah  
Negara Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Makna yang terkandung dalam fungsi dan tujuan pendidikan tersebut, adalah untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan pendidikan. Melalui pendidikan kepribadian atau pendidikan yang berkarakter, kecerdasan, keterampilan serta wawasan menjadi lebih luas sehingga lebih dapat meningkatkan dan mengembangkan potensi diri.
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah-sekolah yang ada masih disibukkan dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari hari para siswa.
Di era sekarang, karakter yang baik seperti kejujuran merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat Indonesia. Maraknya korupsi di Indonesia beserta perilaku negatif lainnya, hal ini menunjukan pelakunya tidak berkarakter yang baik.
Karakter yang baik menurut Maxwell dalam Achmad Husen (2010: 10) “lebih dari sekedar perkataan, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah, melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan, kebiasaan, keberanian usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup”.
Berkowitz dalam Achmad Husen (2010: 10) menyatakan “bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu”.
Achmad Husen (2010: 10) mengatakan bahwa “karakter mengandung unsur moral, sikap bahkan perilaku karena untuk menentukan apakah seseorang memiliki akhlak atau budi pekerti yang baik, hanya akan terungkap pada saat seseorang itu melakukan perbuatan atau perilaku tertentu”.
Meskipun potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Karena Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural). Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah dasar merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya.
Demikian pula yang dikatakan oleh Muhammad Nuh dalam Antaranews (2011: 1) “Pendidikan karakter harus dimulai sejak dini yakni dari jenjang pendidikan SD”. Menurutnya Pendidikan karakter di sekolah dasar mencapai 60 persen dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya, agar lebih mudah diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu hingga kelak ia dewasa. Siswa SD yang masih belum terkontaminasi dengan sifat yang kurang baik sangat memungkinkan untuk ditanamkan sifat-sifat atau karakter untuk membangun bangsa.  Ia menegaskan selain orang tua, guru SD juga mempunyai peranan yang sangat vital untuk menempah karakter siswa. Jika karakter anak telah terbentuk sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter baik yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, jujur, bertanggung jawab sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram sebuah suatu negara.
Ada beberapa penelitian yang menjelaskan dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik. Diantaranya hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis , menunjukan adanya peningkatan motivasi siswa sekolah dapat meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Joseph Zins dkk mengkomplikasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. (Suyanto, 2009: 2-3)
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Menurutnya ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Menurut Mahatma Gandhi pendidikan tanpa basis karakter adalah salah satu dosa yang fatal (Achmad Husen 2010: 2).
Achmad Husen (2010: 19) mengatakan “sekolah memiliki pengaruh dan dampak terhadap karakter siswa, baik disengaja maupun tidak. Kenyataan ini menjadi entry point untuk menyatakan bahwa sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pendidikan moral dan pembentukan karakter”. Selanjutnya para pakar pendidikan terutama pendidikan nilai, moral atau karakter, melihat hal itu bukan sekedar tugas dan tanggung jawab tetapi juga merupakan suatu usaha yang harus menjadi prioritas.
Kegagalan guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut didengar dan diikuti. Sebagai seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar kepada siswa. Namun yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah karakter anak didiknya menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi: nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Pada tataran sekolah kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktekkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.
Menurut Asmani (2011: 54) ada beberapa indikator keberhasilan pendidikan karakter yaitu:
Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja, menunjukan percaya diri, mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas, menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional,mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif, menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya, menerapkan hidup bersih, sehat bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik, memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan masyarakat; menghargai adanya perbedaan pendapat, menunjukan kegemaran membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.

Kenyataannya di SD Inpres 1 Talise belum sepenuhnya mencerminkan sikap karakter yang baik. Masih ditemukan perilaku siswa yang menunjukan karakter buruk yang di lakukan siswa dan guru belum maksimal memperlihatkan dan memberi panutan perilaku karakter yang baik disebabkan karena minimnya pengetahuan guru terhadap konsep pendidikan karakter itu sendiri. Contoh perilaku siswa yaitu menyontek, antar siswa masih saling mengolok-olok, tidak mematuhi peraturan yang dibuat sekolah, tidak menghargai sesama teman maupun terhadap guru. Selain itu di SD Inpres 1 Talise belum terdapat ruang mushola yang memadai melihat yang di fungsikan sebagai mushola adalah ruang kelas.
Berdasarkan pemikiran dan fakta empiris yang telah disampaikan tersebut, membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis kebutuhan pendidikan karakter di SD Inpres 1 Talise Kecamatan Palu Timur.
B.     Rumusan Masalah
Melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.         Bagaimana pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter.
2.         Nilai-nilai karakter apa saja yang relevan dengan kondisi sekolah.

C.    Tujuan Penelitian
           Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini   adalah :
1.         Mendeskripsikan  pemahaman guru SD Inpres 1 Talise tentang konsep pendidikan karakter.
2.         Mendeskripsikan nilai-nilai apa saja yang relevan dengan kondisi sekolah.
D.    Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat dilakukannya penelitian yaitu:
1.      Bagi Guru:
a)   Sebagai bahan rujukan dalam merumuskan materi pendidikan di lembaga pendidikan dalam mengembangkan pendidikan berkarakter.
b)   Dapat memotivasi guru untuk memilih berbagai model atau pendekatan yang efektif dalam mencapai tujuan menanamkan pendidikan yang berkarakter terhadap siswa.
2.      Bagi sekolah:
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Kepala Sekolah dan staf pengajar di SD Inpres 1 Talise Palu Timur.
3.      Bagi peneliti:
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai temuan awal untuk melakukan penelitian lanjut tentang model pengembangan pendidikan yang berkarakter.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
·         Pengertian kebutuhan
Kebutuhan dalam Wikipedia (2011: 1) adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha. Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan dalam Indonesia maju (2011: 1) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Menurut Yans (2008: 2) Kebutuhan adalah “kesenjangan (Gap/Discrepancy) antara apa/kondisi yang ada dan apa/kondisi yang seharusnya ada”. Kebutuhan belajar (learning needs) atau kebutuhan pendidikan (education need) adalah kesenjangan yang dapat diukur antara hasil belajar atau kemampuan yang ada sekarang dan hasil belajar atau kemampuan yang diinginkan/dipers-yaratkan”.
Menurut Sudjana dalam Yans (2008: 2) kebutuhan belajar dapat diartikan “sebagai suatu jarak antara tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang dimiliki pada suatu saat dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang ingin diperoleh sesorang, kelompok, lembaga, dan/atau masyarakat yang hanya dapat dicapai melalui kegiatan belajar”. Kaufman, menyebutkan bahwa masalah adalah selected gap.
Menurut Bradshaw dalam Yans (2008: 3) membedakan adanya 5 macam kebutuhan, yaitu:
1)        Kebutuhan normatif adalah kebutuhan yang ada setelah dibandingkan dengan norma tertentu kebutuhan normatif juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang timbul apabila seseorang atau suatu kelompok berada dalam keadaan dibawah suatu ukuran (standard) yang telah ditetapkan.
       Dalam bidang pendidikan, kebutuhan normatif muncul pula apabila penampilan seseorang siswa pada suatu lembaga pendidikan berada dibawah rata-rata penampilan siswa yang telah ditetapkan oleh lembaga tersebut. Walaupun demikian tidak mudah untuk mengetahui dengan pasti mengenai tingkat perbedaan keadaan seseorang atau kelompok dengan ukuran yang telah ditetapkan itu.
2)        Kebutuhan terasa (feels needs) atau dapat pula disebut sebagai keinginan (want). Kebutuhan jenis ini biasanya disampaikan seseorang jika ditanyakan apa yang diperlukan atau diinginkan yang dirasakan pada saat itu. Kebutuhan terasa dianggap sama dengan keinginan atau kehendak. Tipe kebutuhan ini dapat diidentifikasi dengan mudah melalui wawancara dengan seseorang atau sekelompok orang mengenai apa yang mereka inginkan.
3)        Expressed Needs atau Demand yaitu kebutuhan yang ditampakkan oleh orang-orang yang membutuhkannya. Kebutuhan yang dinyatakan dapat pula diidentifikasi melalui wawancara atau kuesioner dengan seseorang atau kelompok orang.
4)        Kebutuhan komparatif (Comparated Needs) adalah kebutuhan yang muncul jika membandingkan dua kondisi atau lebih yang berbeda.
5)        Kebutuhan masa datang (Antisipated/Future Needs). Jenis ini merupakan proyeksi atau antisipasi kebutuhan yang akan terjadi dimasa mendatang. Identifikasi kebutuhan yang diantisipasi dalam pendidikan akan membantu dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu memantau lingkungan dan memahami kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dimasa depan.
Model pengukuran kebutuhan menurut Koufman dalam Yans (2008: 4) membedakan tiga jenis model pengukuran kebutuhan yaitu:
1.        Model Induktif (tipe I), dengan langkah-langkah:
a)         Mulai dari pengukuran tingkah laku siswa pada saat sekarang.
b)        Kemudian mengelompokkan dalam kawasan program dari sudut
       (umum) yang diharapkan.
c)         Harapan-harapan tersebut dibandingkan dengan tujuan yang besar yang
       ada pada kurikulum, baru lahirlah kesenjangan.
d)        Untuk menyediakan program, maka disusun tujuan secara terperinci
       dalam program yang tepat, dilaksanakan, dievaluasi, dan direvisi.
2.        Model deduktif (tipe D), dengan langkah-langkah:
a)         Dimulai dari tujuan umum berupa pernyataan hasil belajar yang diharapkan.
b)        Kembangkan ukuran/kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu.
c)         Kumpulkan data untuk mengetahui adanya kesenjangan.
d)        Atas dasar kesenjangan–kesenjangan tersebut disusun tujuan khusus secara detail.
e)         Program dikembangkan, dilaksanakan, dan dievaluasi.
3.        Model Klasikal/Classical (Tipe C), dengan langkah-langkah:
a)         Banyak tergantung pada guru yang akan menyampaikan bahan belajar, tidak didasarkan kepada kebutuhan belajar siswa.
b)        Penyusunan tujuan umum.
c)         Pengembangan program, dan pelaksanaan.
d)        Penilaian dan revisi.
Menurut Koufman dalam Yans (2008: 4), pengukuran kebutuhan atau analisis kesenjangan ini memiliki 3 (tiga) karakteristik yaitu:
1.        Data yang terkumpul harus menggambarkan keadaan calon siswa atau orang lain yang mempunyai kondisi yang sama.
2.        Setiap pernyataan kebutuhan sifatnya tentative.
3.        Sebaiknya kesenjangan diidentifikasi dari sudut tingkah laku aktual, tidak dari segi proses pencapaian. Maksudnya, untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam belajar itu dilihat dari kebutuhan yang terakhir atau yang paling penting.
Untuk mengadakan assesment needs (menelusuri kebutuhan) ini perlu melibatkan tiga usur berikut ini:
1.        Calon siswa (calon warga belajar/calon peserta didik)
2.        Orang tua, dan anggota masyarakat
3.        Para pendidik, atau pelaksana proses pendidikan.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi yang lahir dari pikiran manusia, setiap manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kebudayaan, lingkungan, waktu, dan agama. Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi/banyak pula macam kebutuhan yang harus dipenuhi.
Sedangkan Kebutuhan belajar dapat disimpulkan yaitu sebuah gap antara keadaan yang sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dan itu harus terpenuhi dengan jalan belajar.
·         Pengertian Pendidikan karakter
Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogik berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa (Hasbullah, 2003: 1).
Ada berbagai macam definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli. Diantaranya Albertus (2007: 53) mengemukakan pendidikan merupakan “sebuah proses” yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar menjadi semakin tertata, semacam proses penciptaan sebuah kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain”. Ki Hajar Dewantara dalam Soemanto dan Soetopo (1982: 11) pendidikan merupakan “Daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya”. Adapun maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Hal ini sejalan dengan pendapat Langeveld dalam Hasbullah (2003: 2) pendidikan “ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari setiap individu maupun kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan potensi yang ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang diharapkan. Tidak hanya menitikberatkan pada pengembangan pola pikir saja, namun juga untuk mengembangkan semua potensi yang ada pada diri seseorang. Jadi pendidikan menyangkut semua aspek pada kepribadian seseorang untuk membuat seseorang tersebut menjadi lebih baik.
Secara umum istilah “karakter” yang sering disamakan dengan istilah “temperamen”, ”tabiat”, “watak” atau “akhlak” yang memberinya sebuah definisi sesuatu yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Secara harfiah menurut beberapa bahasa, karakter memiliki berbagai arti seperti: “kharacter” (latin) berarti instrument of marking, “charessein” (Prancis) berarti to engrove (mengukir), “watek” (Jawa) berarti ciri wanci; “watak” (Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, dan peringai dalam Achmad Husen (2010: 9).
Dalam kamus psikologi, dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Husodo, 1995: 124).
Berikut pengertian karakter menurut para ahli: Hermawan Kertajaya dalam Asmani (2011: 28) mengemukakan bahwa “karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu”. Suyanto (2009: 1) mengatakan “karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawab-kan tiap akibat dari keputusan yang ia buat”. Menurut Albertus (2007: 80), karakter diasosiasikan dengan temperamen yang memberikannya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kebribadian yang dimiliki setiap individu, dari kepribadian tersebut menjadikan ciri khas seseorang yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Kepribadian itu sendiri terbentuk dari apa yang dilihat, dan apa yang dialami oleh seseorang.
Menurut Suyanto (2009: 1) Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona tanpa ketiga aspek ini pendidikan karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 31) adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal yang terkaitnya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Prasetyo dan Rivasintha, 2011: 2).
Berdasarkan pemahaman di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan pendidik (guru) dalam menanamkan nilai-nilai karakter positif terhadap peserta didik (siswa). Sehingga siswa diharapkan dapat mengimplementasikan dikehidupan mereka sehari-hari dan mewujudkan ketaatan-ketaatan terhadap tuhan, keluarga dan masyarakat. Dengan karakter positif dapat menciptakan bangsa yang berbudi luhur.
·         Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai-nilai pendidikan karakter yaitu yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6)Kreatif, (7) Mandiri, (8)Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca,(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab (Puskurbuk, 2011: 3).
Menurut Suparlan dalam Asmani (2011: 50) terdapat sembilan pilar karakter yaitu: (1) Responsibility (tanggung jawab), (2) Respect (rasa hormat), (3) Fairness (keadilan), (4) Courage (keberanian), (5) Honesty (kejujuran), (6) Citizenship (kewarganegaraan), (7) Self-discipline (disiplin), (8) Caring (peduli), (9) Perseverance (ketekunan).
Suparlan menjelaskan bahwa nilai-nilai dasar kemanusiaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Selain itu, pendidikan karakter memang harus dibangun dirumah, dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah, bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat, dan bahkan termaksud di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri.
Suyanto (2009: 1) juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai- nilai luhur universal manusia. Sembilan pilar karakter itu adalah sebagai berikut: (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2) Kemandirian dan tanggung jawab, (3) Kejujuran atau amanah, (4) Hormat dan santun, (5) Dermawan, suka tolong menolong, dan gotong royong atau kerja sama, (6) Percaya diri dan pekerja keras, (7) Kepemimpinan dan keadilan, (8) Baik dan rendah hati, (9) Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Ada 6 pilar karakter yang akan dikembangkan menurut Westood yaitu: (1) Trusworthiness (rasa percaya diri), (2) Respect (rasa hormat), (3) Responsibility (rasa tanggung jawab), (4) Caring (rasa peduli), (5) Citizenship (rasa banggga), (6) Fairness (rasa keadilan).
Jumlah dan jenis pilar karakter berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung pada kepentingan dan kondisi masing-masing. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter dapat pula terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar.
Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut.
·         Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter
Menurut Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Indikator keberhasilan penerapan pendidikan karakter di sekolah dan di kelas terdapat beberapa bagian menurut masing-masing nilai-nilai karakter yang akan di jelaskan tabel di bawah ini.
Tabel 2.1 Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter di Sekolah dan di Kelas
Nilai-nilai Karakter
Indikator Sekolah
Indikator Kelas
A.    Religius

·      Merayakan hari-hari besar keagamaan
·      Memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk beribadah
·      Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
·   Berdoa sebelum dan sesudah pelajaran.
·   Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.


B.     Jujur

·     Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.
·     Tranparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala.
·     Menyediakan kantin kejujuran.
·     Menyediakan kotak saran dan pengaduan.
·     Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan atau  ujian.

·      Larangan menyontek.
·      Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang. 
·      Tempat pengumuman barang temuan atau hilang.
·      Tranparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala.




C.     Toleransi

·      Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan  status ekonomi.
·      Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
·      Bekerja dalam kelompok yang berbeda.
·      Memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.
·      Memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus.





D.    Disiplin

·     Memiliki catatan kehadiran.
·     Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin.
·     Memiliki tata tertib sekolah.
·     Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin.
·     Menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah.
·      Menyediakan peralatan praktik sesuai program studi keahlian (SMK).
·      Membiasakan hadir tepat waktu.
·      Membiasakan mematuhi aturan.
·      Menggunakan pakaian praktik sesuai dengan program studi keahliannya (SMK).
·      Penyimpanan dan pengeluaran alat dan bahan (sesuai program studi keahlian) (SMK).


E.   Kerja Keras

·     Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
·     Menciptakan suasana sekolah yang menantang dan memacu untuk bekerja keras.
·     Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang kerja.

·      Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
·      Menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.
·      Mencipatakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja.
·      Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar.
F.   Kreatif

·     Menciptakan situasi yang  menumbuhkan daya  berpikir dan bertindak kreatif

·      Pemberian tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang autentik maupun modifikasi.
·      Menciptakan situasi belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif.
G.  Mandiri

·      Menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik
·       Menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri
H.       Demokatis

·     Melibatkan warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan.
·     Menciptakan suasana  sekolah yang menerima perbedaan.
·      Pemilihan kepengurusan OSIS secara terbuka.

·      Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.
·      Pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka.
·      Seluruh produk kebijakan  melalui musyawarah dan mufakat.
·      Mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.
I.     Rasa Ingin Tahu

·     Menyediakan media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik) untuk berekspresi bagi warga sekolah.
·     Memfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
·      Menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu.
·      Eksplorasi lingkungan secara terprogram.
·      Tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik). 

J.     Semangat Kebangsaan

·     Melakukan upacara rutin sekolah.
·     Melakukan upacara hari-hari besar nasional.
·     Menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional.
·     Memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah.
·     Mengikuti lomba pada hari besar nasional.
·      Bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial-ekonomi.
·      Mendiskusikan hari-hari besar nasional.

K.  Cinta Tanah Air

·     Menggunakan produk buatan dalam negeri.
·     Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
·     Menyediakan informasi  (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.
·      Memajangkan: foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia.
·      Menggunakan produk buatan dalam negeri.

L.   Menghargai Prestasi

·     Memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah.
·     Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.

·      Memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik.
·      Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.
·      Menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.
M. Bersahabat/ komuniktif

·     Suasana sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antarwarga sekolah.
·     Berkomunikasi dengan bahasa yang santun.
·     Saling menghargai dan menjaga kehormatan.
·     Pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban.

·      Pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik.
·      Pembelajaran yang dialogis.
·      Guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik.
·      Dalam berkomunikasi, guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik.
N.  Cinta Damai

·      Menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tenteram, dan harmonis.
·      Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
·      Membiasakan perilaku warga sekolah yang tidak bias gender.
·      Perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang.
·      Menciptakan suasana kelas yang damai.
·      Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
·      Pembelajaran yang tidak bias gender.
·      Kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.


O. Gemar Membaca

·      Program wajib baca.
·      Frekuensi kunjungan perpustakaan.
·      Menyediakan fasilitas dan suasana menyenangkan untuk membaca.

·      Daftar buku atau tulisan yang dibaca peserta didik.
·      Frekuensi kunjungan perpustakaan.
·      Saling tukar bacaan.
·      Pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi,
P.   Peduli Lingkungan

·      Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
·      Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan.
·      Menyediakan kamar mandi dan air bersih.
·      Pembiasaan hemat energi.
·      Membuat biopori di area sekolah.
·      Membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik.
·      Melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.
·      Penugasan pembuatan kompos dari sampah organik.
·      Penanganan limbah hasil praktik (SMK).
·      Menyediakan peralatan kebersihan.
·      Membuat tandon penyimpanan air.
·      Memrogramkan cinta bersih lingkungan.
·      Memelihara lingkungan kelas.
·      Tersedia tempat pembuangan sampah di dalam kelas.
·      Pembiasaan hemat energi.
·      Memasang stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan apabila selesai digunakan (SMK).

Q.  Peduli Sosial

·     Memfasilitasi kegiatan bersifat sosial.
·     Melakukan aksi sosial.
·     Menyediakan fasilitas untuk menyumbang.
·      Berempati kepada sesama teman kelas.
·      Melakukan aksi sosial.
·      Membangun kerukunan warga kelas.
R.  Tanggung jawab

·       Membuat laporan setiap kegiatan  yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis.
·       Melakukan tugas tanpa disuruh.
·       Menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah dalam lingkup terdekat.
·      Menghindarkan kecurangan dalam pelaksanaan tugas.
·      Pelaksanaan tugas piket secara teratur.
·      Peran serta aktif dalam kegiatan sekolah.
·      Mengajukan usul pemecahan masalah.

Sumber: Kementrian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Tahun 2010.
            Peneliti menetapkan beberapa Indikator yang digunakan dalam penelitian ini, sesuai kondisi dan keadaan sekolah tempat penelitian dilaksanakan, yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.2 Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter
No
Nilai Karakter
Indikator


1.
Religius
Memberikan Kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.

2.
Jujur
1.   Larangan Menyontek
2.   Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.

3.
Toleransi
1.   Bekerja dalam kelompok yang berbeda.
2.   Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder.

4.
Disiplin
1.   Membiasakan hadir tepat waktu.
2.   Membiasakan Mematuhi peraturan

5.
Kerja Keras
1.    Menciptakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja.
2.    Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar

6.
Kreatif
Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif.

7.
Mandiri
Menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri

8.
Demokratis
Melibatkan siswa dalam setiap pengambilan keputusan pemilihan ketua OSIS maupun ketua kelas

9.
Rasa Ingin Tahu
Menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu

10.
Semangat Kebangsaan
Melakukan upacara rutin sekolah.

11.
Cinta Tanah Air
1.    Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.    Memajang: foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara.

12.
Menghargai Prestasi
1.    Memberi penghargaan kepada siswa yang berprestasi
2.    Menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi

13.
Bersahabat/ komuniktf
Suasana kelas yang memudahkan terjadinya interaksi guru dan siswa

14.
Cinta Damai
1.    Menciptakan suasana kelas yang damai.
2.    Membiasakan perilaku warga sekolah (kelas) yang anti kekerasan.

15.
Gemar Membaca
Frekuensi kunjungan perpustakaan.

16.
Peduli Lingkungan
1.    Tersedia tempat pembuangan sampah.
2.    Menyediakan kamar mandi dan air bersih.

17.
Peduli Sosial
Berempati kepada sesama siswa

18.
Tanggung Jawab
1.    Melakukan tugas tanpa disuruh.
2.    Pelaksanaan tugas piket secara teratur.

Sumber: Indikator yang digunakan Peneliti
BAB III
METODE PENELITIAN


A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif, atau biasa juga disebut penelitian non-experimen karena tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, pendekatan ini sumber data yang diperoleh dalam penelitian dijelaskan berdasarkan interpretasi  data secara tertulis dengan uraian kata-kata.
Pendekatan ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi serta pihak yang menjadi informan atau responden penelitian secara subtantif mewakili keadaan sesuai kebutuhan penelitian baik kepada siswa, guru, dan warga sekolah lainnya termasuk  komite sekolah.
Menurut Bogdan dan Taylor (1982: 21-22) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif: ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subyek) itu sendiri.
Definisi yang sejalan dengan pendapat tersebut disampaikan Nazir (1988: 63-64) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah sebagai berikut:
Suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Pandangan yang senada disampaikan pula oleh Nawawi (1991: 63) yang mengemukakan bahwa “metode deskriptif diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan, melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya”.
Sudarwan (2002: 60) mengatakan bahwa beberapa ciri utama yang menonjol dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.        Sumber data langsung berupa tata situasi alami dan peneliti adalah instrument  kunci.
2.        Bersifat deskriptif.
3.        Lebih menekankan pada makna proses ketimbang hasil.
4.        Analisis data bersifat induktif.
5.        Makna merupakan perhatian utama dalam pendekatan penelitian.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis (Nurul Zuriah, 2006: 47).
Menurut Sukardi (2003: 157) dalam penelitian deskriptif dilakukan pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan kejadian sekarang. Peneliti melaporkan keadaan objek yang diteliti  sesuai dengan apa adanya.
Tujuan utama dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang sosial, humaniora dan pendidikan, serta tingkah laku manusia.
B.     Penetapan Unit Analisis
Black dan Champion dalam Herlina (2011: 20) mengatakan bahwa:
Perencanaan sampling non-probabilitas tidak mengukur sejauh mana karakteristik sampel mendekati parameter populasi induknya sehingga dalam kenyataannya, peneliti pada umumnya tidak dapat mengidentifikasi populasi induk sama sekali. Oleh karena itu dalam perencanaan sampling non-probabilitas sampel yang diambil tidak dapat digeneralisasikan pada populasi tempat sampel tersebut diambil.

Dari pendapat yang dikemukakan di atas maka pendekatan yang digunakan,  dalam penelitian ini tidak ada pengertian populasi. Dalam penelitian kualitatif istilah populasi tidak perlu, karena peneliti tidak akan menggeneralisasikan hasil peneliti. Peneliti hanya memulai dengan asumsi bahwa konteks lebih penting daripada jumlah. Oleh karena itu, peneliti tidak akan menghitung proporsi sampel yang dipandang lebih representative. Tujuan penyampelan tidak untuk mendapatkan kesamaan data dapat digeneralisasikan akan tetapi untuk mendapat kesamaan dan keunikan-keunikan. Sampel dapat berupa peristiwa, manusia, situasi dan sebagainya. (Suwardi Endraswara, 2003: 206).
Penetapan unit analisis dalam penelitian ini menggunakan tekhnik penyampelan model snow-ball sampling. Dimana peneliti mencari relawan di lapangan, yaitu orang-orang yang mampu diajak berbicara dan dari mereka data akan diperoleh. Dari mereka pula akan ada penambahan sampel dan atau subjek, atas rekomendasinya itu, peneliti segera meneruskan ke subjek yang lain. Jumlah sampel tidak ada batas minimal atau maksimal, yang penting telah memadai dan mencapai “data jenuh”, yaitu tidak ditemukan informasi baru lagi dari subjek penelitian.
Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan jaringan, yakni berdasarkan informasi yang diperoleh dari kepala sekolah, guru, dan orang-orang yang terlibat dalam instansi sekolah. Melalui jaringan ini akan dipilih informan yang memenuhi kriteria yang diberikan Spradley dalam Suwardi Endraswara, (2003: 206), yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis.
C.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres 1 Talise terletak di kecamatan Palu timur yang terletak di Jl. Tombolotutu, merupakan sekolah yang sudah mencanangkan pendidikan karakter di bulan November tahun 2011.  Meskipun disetiap ruangan, baik di dalam maupun di luarnya, dihiasi dengan kata-kata mutiara, semboyan,dan media pembelajaran lainnya yang sesuai. Namun Peneliti merasa belum cukup dalam mencerminkan pendidikan yang berkarakter. Melihat siswa belum memperlihatkan sikap yang berkarakter baik, dan pemahaman guru mengenai konsep pendidikan karakter masih kurang sehingga belum maksimalnya pendidikan karakter diterapkan kepada siswa. Hal ini dilihat dari perilaku siswa di SD Inpres 1 Talise belum memperlihatkan karakter baik secara optimal. Alasan-alasan inilah yang menjadikan peneliti tertarik untuk memilih lokasi tersebut  untuk meneliti dan menganalisis kebutuhan pendidikan karakter.

D.    Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden penelitian, dan data dari lembar pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Data dalam penelitian ini berbentuk deskriptif,  yang diperoleh dari data lembar observasi tentang kebutuhan pendidikan karakter selama pelaksanaan penelitian.
Data yang diperoleh dari memilih informan dengan teknik bola salju (snow ball). Penarikan sampel pola ini Sudarwan (1997: 98) mengatakan bahwa “diawali dengan penentuan sampel pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi sampel petama, dan demikian seterusnya. Dengan penarikan sampel bola salju, peneliti secara teoritis akan ‘menghadapi’ jumlah sampel yang tidak terhingga”.
E.     Prosedur Pengumpulan Data
Sesuai dengan permasalahan dalam penelitian ini, yakni ingin menganalisis kebutuhan pendidikan karakter, maka dalam memilih instrumen sebagai alat pengumpul data peneliti kembali mengacu kepada pendapat Guba yang dikutip oleh Herlina (2011: 22-23). “Instrumen penelitian tidak bersifat eksternal atau obyektif melainkan, subjektif, yaitu peneliti sendiri tanpa menggunakan test, angket atau eksperimen. Instrumen  dengan sendirinya tidak berdasarkan definisi operasional”.
Berdasarkan itu, maka instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat bantu pengumpul data berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, dan dokumentasi.
1)   Wawancara
Wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru serta siswa yang ada di sekolah tersebut. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan data berkaitan dengan sikap dan pandangan para guru mengenai pendidikan yang berkarakter, dan nilai-nilai karakter yang relevan di SD Inpres 1 Talise.
2)   Observasi
Observasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengamati secara langsung kondisi yang terjadi disekolah. Peneliti melakukan pengamatan secara cermat terhadap kondisi dan prilaku subjek. Selanjutnya peneliti dapat menggali lebih jauh data-data yang dibutuhkan melalui kepala sekolah, guru, staf, dan siswa.
Teknik ini menuntut peneliti lebih banyak memainkan peran pada situasi yang sama atau berbeda. Selanjutnya data observasi dapat dibandingkan dengan data hasil wawancara, apabila terdapat perbedaan maka dapat dikonfrontasi melalui hasil pengamatan peneliti.
3)   Dokumentasi
Analisis dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen I dan dokumen II. Dokumen I kurikulum (antara lain visi, misi, dan tujuan sekolah) dan dokumen II (silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran).
Dokumen dalam penelitian sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan unruk meramalkan. Dokumen digunakan untuk keperluan penelitian karena alasan dokumen merupakan salah satu hal yang penting dalam memahami obyek penelitian. Bahkan, literatur-literatur yang relevan dimasukan pula dalam kategori dokumen yang mendukung penelitian ( Gulo, 2007: 123).
F. Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan sebagai hasil wawancara dan observasi yang tersusun dalam bentuk catatan lapangan hasil wawancara dan catatan lapangan hasil obsevasi, kemudian dianalisis melalui tiga tahapan kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi Miles dan Huberman dalam Imam Suprayogo (2001: 195-197)
1.    Reduksi data
Reduksi data dilakukan sebagai proses memilih, meyeleksi data, menyederhanakan dan transformasi data kasar yang terdapat dalam catatan lapangan. Reduksi data ditujukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak dibutuhkan serta mengorganisasi data sesuai dengan kebutuhannya.
2.    Penyajian Data
Penyajian data yang dimaksud adalah penyusunan sekumpulan data yang telah direduksi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Tindakan penyajian data dilakukan dalam bentuk dalam kata-kata atau kalimat.
3.    Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Penarikan kesimpulan akhirnya dapat dilakukan setelah data tersusun dalam sajian data. Verifikasi sangat penting dilakukan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuat untuk memperoleh validitas data.
Ketiga alur kegiatan ini akan berlangsung terus menerus sepanjang penelitian berlangsung dan merupakan siklus yang interaktif sehingga setiap kesimpulan yang ada bukanlah merupakan kesimpulan akhir, sampai penelitian berakhir.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Pendidikan Karakter"

Posting Komentar