Pendidikan Karakter
ANALISIS KEBUTUHAN PENDIDIKAN KARAKTER
DI SD INPRES 1 TALISE
SKRIPSI
Oleh
Siti Aisah
Stb: A. 401 08 092
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
AGUSTUS, 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara Indonesia
memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai
pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut,
pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan Undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional No 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa:
Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Makna yang
terkandung dalam fungsi dan tujuan pendidikan tersebut, adalah untuk
menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan pendidikan. Melalui
pendidikan kepribadian atau pendidikan yang berkarakter, kecerdasan,
keterampilan serta wawasan menjadi lebih luas sehingga lebih dapat meningkatkan
dan mengembangkan potensi diri.
Sistem
pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan
kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah-sekolah yang ada masih disibukkan
dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah
latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pertanyaan di
buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari hari para
siswa.
Di era
sekarang, karakter yang baik seperti kejujuran merupakan sesuatu yang jarang
ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta
kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat Indonesia. Maraknya korupsi di
Indonesia beserta perilaku negatif lainnya, hal ini menunjukan pelakunya tidak
berkarakter yang baik.
Karakter
yang baik menurut Maxwell dalam Achmad Husen (2010: 10) “lebih dari sekedar
perkataan, melainkan sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. Ia bukan anugerah,
melainkan dibangun sedikit demi sedikit, dengan pikiran, perkataan, perbuatan,
kebiasaan, keberanian usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan hidup”.
Berkowitz
dalam Achmad
Husen (2010: 10) menyatakan “bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu
menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition)
menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja
perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan
karena tingginya penghargaan akan nilai itu”.
Achmad
Husen (2010: 10) mengatakan bahwa “karakter mengandung unsur moral, sikap
bahkan perilaku karena untuk menentukan apakah seseorang memiliki akhlak atau
budi pekerti yang baik, hanya akan terungkap pada saat seseorang itu melakukan
perbuatan atau perilaku tertentu”.
Meskipun
potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan,
tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan
pendidikan sejak usia dini. Karena Karakter merupakan kualitas moral dan mental
seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural)
dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural). Pendidikan merupakan salah
satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah dasar
merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya.
Demikian pula yang dikatakan oleh
Muhammad Nuh dalam Antaranews (2011: 1) “Pendidikan karakter harus dimulai sejak
dini yakni dari jenjang pendidikan SD”. Menurutnya Pendidikan
karakter di sekolah dasar mencapai 60
persen dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya, agar lebih mudah
diajarkan dan melekat dijiwa anak-anak itu hingga kelak ia dewasa. Siswa SD
yang masih belum terkontaminasi dengan sifat yang kurang baik sangat
memungkinkan untuk ditanamkan sifat-sifat atau karakter untuk membangun bangsa. Ia menegaskan selain
orang tua, guru SD juga mempunyai peranan yang sangat vital untuk menempah
karakter siswa. Jika karakter anak telah terbentuk
sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka
generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter
baik yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil,
jujur, bertanggung jawab sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram
sebuah suatu negara.
Ada beberapa penelitian yang
menjelaskan
dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik. Diantaranya hasil
studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-
St. Louis , menunjukan adanya peningkatan motivasi siswa sekolah
dapat meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan
karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan
karakter menunjukan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang
dapat menghambat keberhasilan akademik. Joseph Zins dkk mengkomplikasikan
berbagai
hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan anak terhadap keberhasilan
di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor
resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan
ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak tetapi pada karakter, yaitu rasa
percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. (Suyanto, 2009: 2-3)
Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel
Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Menurutnya
ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20 persen
ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ).
Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami
kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Menurut
Mahatma Gandhi pendidikan tanpa basis karakter adalah salah satu dosa yang
fatal (Achmad
Husen 2010: 2).
Achmad
Husen (2010: 19) mengatakan “sekolah memiliki pengaruh dan dampak terhadap
karakter siswa, baik disengaja maupun tidak. Kenyataan ini menjadi entry
point untuk menyatakan bahwa sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab
untuk melakukan pendidikan moral dan pembentukan karakter”. Selanjutnya para
pakar pendidikan terutama pendidikan nilai, moral atau karakter, melihat hal
itu bukan sekedar tugas dan tanggung jawab tetapi juga merupakan suatu usaha
yang harus menjadi prioritas.
Kegagalan
guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak
mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut
didengar dan diikuti. Sebagai seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan
materi ajar kepada siswa. Namun yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana
seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah
karakter anak didiknya menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya
sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Pendidikan
karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah.
Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan,
dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah
secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi: nilai-nilai yang
perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan
tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen
sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.
Pada tataran sekolah kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah
terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu
perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktekkan
oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah.
Menurut
Asmani (2011: 54) ada beberapa indikator keberhasilan pendidikan karakter
yaitu:
Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan
tahap perkembangan remaja, menunjukan percaya diri, mematuhi aturan-aturan
sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas, menghargai keberagaman
agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup
nasional,mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan dan sumber-sumber
lain secara logis, kritis, dan kreatif, menunjukan kemampuan belajar secara
mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya, menerapkan hidup bersih, sehat
bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik, memahami hak dan
kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan masyarakat; menghargai adanya
perbedaan pendapat, menunjukan kegemaran membaca dan menulis dalam bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris sederhana.
Kenyataannya
di SD Inpres 1 Talise belum sepenuhnya mencerminkan sikap karakter yang baik. Masih
ditemukan perilaku siswa yang menunjukan karakter buruk yang di lakukan siswa dan
guru belum maksimal memperlihatkan dan memberi panutan perilaku karakter yang
baik disebabkan karena minimnya pengetahuan guru terhadap konsep pendidikan
karakter itu sendiri. Contoh perilaku siswa yaitu menyontek, antar siswa masih
saling mengolok-olok, tidak mematuhi peraturan yang dibuat sekolah, tidak
menghargai sesama teman maupun terhadap guru. Selain itu di SD Inpres 1 Talise
belum terdapat ruang mushola yang memadai melihat yang di fungsikan sebagai
mushola adalah ruang kelas.
Berdasarkan pemikiran dan fakta
empiris yang telah disampaikan tersebut, membuat peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang analisis kebutuhan pendidikan karakter di SD
Inpres 1 Talise Kecamatan Palu Timur.
B. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.
Bagaimana pemahaman guru tentang
konsep pendidikan karakter.
2.
Nilai-nilai karakter apa saja yang
relevan dengan kondisi sekolah.
C.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.
Mendeskripsikan pemahaman guru SD Inpres 1 Talise tentang
konsep pendidikan karakter.
2.
Mendeskripsikan nilai-nilai apa saja
yang relevan dengan kondisi sekolah.
D.
Kegunaan
Penelitian
Adapun manfaat dilakukannya
penelitian yaitu:
1.
Bagi Guru:
a)
Sebagai bahan rujukan dalam
merumuskan materi pendidikan di lembaga pendidikan dalam mengembangkan pendidikan
berkarakter.
b)
Dapat memotivasi guru untuk memilih
berbagai model atau pendekatan yang efektif dalam mencapai tujuan menanamkan
pendidikan yang berkarakter terhadap siswa.
2.
Bagi sekolah:
Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menjadi masukan bagi Kepala Sekolah dan staf pengajar di SD Inpres 1
Talise Palu Timur.
3.
Bagi peneliti:
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai temuan awal untuk melakukan penelitian lanjut tentang model
pengembangan pendidikan yang berkarakter.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
·
Pengertian
kebutuhan
Kebutuhan dalam Wikipedia
(2011: 1) adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup
dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar (alasan) berusaha. Pada
dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan
dalam Indonesia
maju (2011: 1) adalah segala sesuatu
yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh
kesejahteraan dan kenyamanan. Menurut
Yans (2008: 2) Kebutuhan adalah “kesenjangan (Gap/Discrepancy) antara apa/kondisi yang ada dan apa/kondisi yang
seharusnya ada”. Kebutuhan
belajar (learning needs) atau
kebutuhan pendidikan (education need)
adalah kesenjangan yang dapat diukur antara hasil belajar atau kemampuan yang
ada sekarang dan hasil belajar atau kemampuan yang diinginkan/dipers-yaratkan”.
Menurut
Sudjana dalam Yans (2008: 2) kebutuhan belajar dapat diartikan “sebagai suatu
jarak antara tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang dimiliki
pada suatu saat dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan/atau sikap yang
ingin diperoleh sesorang, kelompok, lembaga, dan/atau masyarakat yang hanya
dapat dicapai melalui kegiatan belajar”. Kaufman, menyebutkan bahwa masalah
adalah selected gap.
Menurut
Bradshaw dalam Yans (2008: 3) membedakan adanya 5 macam kebutuhan, yaitu:
1)
Kebutuhan normatif
adalah kebutuhan yang ada setelah dibandingkan dengan norma tertentu kebutuhan
normatif juga bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang timbul apabila seseorang
atau suatu kelompok berada dalam keadaan dibawah suatu ukuran (standard) yang telah ditetapkan.
Dalam bidang pendidikan, kebutuhan
normatif muncul pula apabila penampilan seseorang siswa pada suatu lembaga
pendidikan berada dibawah rata-rata penampilan siswa yang telah ditetapkan oleh
lembaga tersebut. Walaupun demikian tidak mudah untuk mengetahui dengan pasti
mengenai tingkat perbedaan keadaan seseorang atau kelompok dengan ukuran yang
telah ditetapkan itu.
2)
Kebutuhan terasa (feels needs) atau dapat pula disebut
sebagai keinginan (want). Kebutuhan
jenis ini biasanya disampaikan seseorang jika ditanyakan apa yang diperlukan
atau diinginkan yang dirasakan pada saat itu. Kebutuhan terasa dianggap sama
dengan keinginan atau kehendak. Tipe kebutuhan ini dapat diidentifikasi dengan
mudah melalui wawancara dengan seseorang atau sekelompok orang mengenai apa
yang mereka inginkan.
3)
Expressed
Needs atau Demand yaitu kebutuhan yang ditampakkan oleh orang-orang yang
membutuhkannya. Kebutuhan yang dinyatakan dapat pula diidentifikasi melalui
wawancara atau kuesioner dengan seseorang atau kelompok orang.
4)
Kebutuhan komparatif (Comparated Needs) adalah kebutuhan yang
muncul jika membandingkan dua kondisi atau lebih yang berbeda.
5)
Kebutuhan masa datang (Antisipated/Future Needs). Jenis ini
merupakan proyeksi atau antisipasi kebutuhan yang akan terjadi dimasa
mendatang. Identifikasi kebutuhan yang diantisipasi dalam pendidikan akan
membantu dalam mempersiapkan peserta didik agar mampu memantau lingkungan dan
memahami kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dimasa depan.
Model pengukuran
kebutuhan menurut Koufman dalam Yans (2008: 4) membedakan tiga jenis model
pengukuran kebutuhan yaitu:
1.
Model Induktif (tipe
I), dengan langkah-langkah:
a)
Mulai dari pengukuran tingkah
laku siswa pada saat sekarang.
b)
Kemudian mengelompokkan
dalam kawasan program dari sudut
(umum) yang diharapkan.
c)
Harapan-harapan
tersebut dibandingkan dengan tujuan yang besar yang
ada pada kurikulum, baru lahirlah
kesenjangan.
d)
Untuk menyediakan
program, maka disusun tujuan secara terperinci
dalam program yang tepat, dilaksanakan,
dievaluasi, dan direvisi.
2.
Model deduktif (tipe
D), dengan langkah-langkah:
a)
Dimulai dari tujuan
umum berupa pernyataan hasil belajar yang diharapkan.
b)
Kembangkan
ukuran/kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu.
c)
Kumpulkan data untuk
mengetahui adanya kesenjangan.
d)
Atas dasar
kesenjangan–kesenjangan tersebut disusun tujuan khusus secara detail.
e)
Program dikembangkan,
dilaksanakan, dan dievaluasi.
3.
Model Klasikal/Classical (Tipe C), dengan
langkah-langkah:
a)
Banyak tergantung pada
guru yang akan menyampaikan bahan belajar, tidak didasarkan kepada kebutuhan
belajar siswa.
b)
Penyusunan tujuan umum.
c)
Pengembangan program,
dan pelaksanaan.
d)
Penilaian dan revisi.
Menurut
Koufman dalam Yans (2008: 4), pengukuran kebutuhan atau analisis kesenjangan
ini memiliki 3 (tiga) karakteristik yaitu:
1.
Data yang terkumpul
harus menggambarkan keadaan calon siswa atau orang lain yang mempunyai kondisi
yang sama.
2.
Setiap pernyataan kebutuhan
sifatnya tentative.
3.
Sebaiknya kesenjangan
diidentifikasi dari sudut tingkah laku aktual, tidak dari segi proses
pencapaian. Maksudnya, untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam belajar itu
dilihat dari kebutuhan yang terakhir atau yang paling penting.
Untuk
mengadakan assesment needs
(menelusuri kebutuhan) ini perlu melibatkan tiga usur berikut ini:
1.
Calon siswa (calon
warga belajar/calon peserta didik)
2.
Orang tua, dan anggota
masyarakat
3.
Para pendidik, atau
pelaksana proses pendidikan.
Dari
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan merupakan sesuatu yang
harus dipenuhi yang lahir dari pikiran manusia, setiap manusia mempunyai
kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu kebudayaan, lingkungan, waktu, dan agama. Semakin tinggi tingkat
kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi/banyak pula macam kebutuhan yang
harus dipenuhi.
Sedangkan
Kebutuhan belajar dapat disimpulkan yaitu sebuah gap antara keadaan yang
sesungguhnya dengan keadaan yang diharapkan dan itu harus terpenuhi dengan
jalan belajar.
·
Pengertian
Pendidikan karakter
Dalam arti
sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina
kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogik berarti bimbingan
atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa (Hasbullah,
2003: 1).
Ada berbagai
macam definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli. Diantaranya Albertus
(2007: 53) mengemukakan pendidikan merupakan “sebuah proses” yang membantu
menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar
menjadi semakin tertata, semacam proses penciptaan sebuah kultur dan tata
keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain”. Ki Hajar Dewantara dalam Soemanto dan Soetopo
(1982: 11) pendidikan merupakan “Daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi
pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras
dengan dunianya”. Adapun maksudnya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya. Hal ini sejalan dengan pendapat Langeveld dalam Hasbullah
(2003: 2) pendidikan “ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan
yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih
tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri”.
Dari definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa pendidikan adalah suatu proses sadar dan terencana dari
setiap individu maupun kelompok untuk membentuk pribadi yang baik dan
mengembangkan potensi yang ada dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan yang
diharapkan. Tidak hanya menitikberatkan pada pengembangan pola pikir saja,
namun juga untuk mengembangkan semua potensi yang ada pada diri seseorang. Jadi
pendidikan menyangkut semua aspek pada kepribadian seseorang untuk membuat
seseorang tersebut menjadi lebih baik.
Secara umum istilah
“karakter” yang sering disamakan dengan istilah “temperamen”, ”tabiat”, “watak”
atau “akhlak” yang memberinya sebuah definisi sesuatu yang menekankan unsur
psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Secara
harfiah menurut beberapa bahasa, karakter memiliki berbagai arti seperti:
“kharacter” (latin) berarti instrument of
marking, “charessein” (Prancis) berarti to engrove (mengukir),
“watek” (Jawa) berarti ciri wanci; “watak” (Indonesia) berarti sifat pembawaan
yang mempengaruhi tingkah laku, budi pekerti, tabiat, dan peringai dalam Achmad Husen
(2010: 9).
Dalam kamus psikologi, dinyatakan
bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral,
misalnya kejujuran seseorang biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang
relatif tetap (Husodo, 1995: 124).
Berikut pengertian karakter menurut
para ahli: Hermawan Kertajaya dalam Asmani (2011: 28) mengemukakan bahwa
“karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu
tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak,
bersikap, berujar, dan merespons sesuatu”. Suyanto (2009: 1) mengatakan “karakter
adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawab-kan tiap akibat dari keputusan yang ia
buat”.
Menurut Albertus (2007: 80), karakter diasosiasikan dengan temperamen yang
memberikannya sebuah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan
dengan pendidikan dan konteks lingkungan.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kebribadian yang
dimiliki setiap individu, dari kepribadian tersebut menjadikan ciri khas
seseorang yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang
lainnya. Kepribadian itu sendiri terbentuk dari apa yang dilihat, dan apa yang
dialami oleh seseorang.
Menurut
Suyanto (2009: 1) Pendidikan
karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek
pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona tanpa
ketiga aspek ini pendidikan karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter
menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 31) adalah segala sesuatu yang dilakukan
oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu dalam
membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara
atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal yang
terkaitnya. Pendidikan karakter adalah
suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil
(Prasetyo dan Rivasintha, 2011:
2).
Berdasarkan
pemahaman di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha
yang dilakukan pendidik (guru) dalam menanamkan nilai-nilai karakter positif
terhadap peserta didik (siswa). Sehingga siswa diharapkan dapat
mengimplementasikan dikehidupan mereka sehari-hari dan mewujudkan
ketaatan-ketaatan terhadap tuhan, keluarga dan masyarakat. Dengan karakter
positif dapat menciptakan bangsa yang berbudi luhur.
·
Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai-nilai
pendidikan karakter yaitu yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan
tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4)
Disiplin, (5) Kerja keras, (6)Kreatif, (7) Mandiri, (8)Demokratis, (9) Rasa
Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai
Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar
Membaca,(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18) Tanggung Jawab (Puskurbuk, 2011: 3).
Menurut Suparlan dalam Asmani (2011:
50) terdapat sembilan pilar karakter yaitu: (1) Responsibility (tanggung jawab), (2) Respect (rasa hormat), (3) Fairness
(keadilan), (4) Courage
(keberanian), (5) Honesty
(kejujuran), (6) Citizenship (kewarganegaraan),
(7) Self-discipline (disiplin), (8) Caring (peduli), (9) Perseverance (ketekunan).
Suparlan menjelaskan bahwa
nilai-nilai dasar kemanusiaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan
bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Selain itu, pendidikan karakter
memang harus dibangun dirumah, dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah,
bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat, dan bahkan termaksud di
dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri.
Suyanto (2009: 1) juga menyebutkan
sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai- nilai luhur universal manusia.
Sembilan pilar karakter itu adalah sebagai berikut: (1) Cinta Tuhan dan segenap
ciptaan-Nya, (2) Kemandirian dan tanggung jawab, (3) Kejujuran atau amanah, (4)
Hormat dan santun, (5) Dermawan, suka tolong menolong, dan gotong royong atau
kerja sama, (6) Percaya diri dan pekerja keras, (7) Kepemimpinan dan keadilan,
(8) Baik dan rendah hati, (9) Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Ada 6 pilar karakter yang akan
dikembangkan menurut Westood yaitu: (1) Trusworthiness
(rasa percaya diri), (2) Respect
(rasa hormat), (3) Responsibility
(rasa tanggung jawab), (4) Caring
(rasa peduli), (5) Citizenship (rasa
banggga), (6) Fairness (rasa
keadilan).
Jumlah dan jenis pilar karakter
berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung
pada kepentingan dan kondisi masing-masing. Perbedaan jumlah dan jenis pilar
karakter dapat pula terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda
terhadap pilar-pilar.
Perbedaan jumlah dan jenis pilar
karakter juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda
terhadap pilar-pilar tersebut.
·
Indikator Keberhasilan Pendidikan
Karakter
Menurut Kementrian
Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Indikator
keberhasilan penerapan pendidikan karakter di sekolah dan di kelas terdapat
beberapa bagian menurut masing-masing nilai-nilai karakter yang akan di
jelaskan tabel di bawah ini.
Tabel
2.1 Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter di Sekolah dan di Kelas
|
Nilai-nilai Karakter
|
Indikator
Sekolah
|
Indikator
Kelas
|
|
A.
Religius
|
· Merayakan hari-hari besar keagamaan
· Memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk beribadah
· Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan
ibadah.
|
·
Berdoa sebelum dan sesudah
pelajaran.
· Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan
ibadah.
|
|
B. Jujur
|
· Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.
· Tranparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala.
· Menyediakan kantin kejujuran.
· Menyediakan kotak saran dan pengaduan.
· Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan atau ujian.
|
· Larangan menyontek.
· Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.
· Tempat pengumuman barang temuan atau hilang.
· Tranparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala.
|
|
C. Toleransi
|
· Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa
membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.
· Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku,
agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
|
· Bekerja dalam kelompok yang berbeda.
· Memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status
sosial, dan status ekonomi.
· Memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus.
|
|
D. Disiplin
|
· Memiliki catatan kehadiran.
· Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin.
· Memiliki tata tertib sekolah.
· Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin.
·
Menegakkan aturan dengan
memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah.
· Menyediakan
peralatan praktik sesuai program studi keahlian (SMK).
|
· Membiasakan hadir tepat waktu.
· Membiasakan mematuhi aturan.
·
Menggunakan pakaian praktik
sesuai dengan program studi keahliannya (SMK).
· Penyimpanan
dan pengeluaran alat dan bahan (sesuai program studi keahlian) (SMK).
|
|
E.
Kerja
Keras
|
· Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
·
Menciptakan suasana sekolah
yang menantang dan memacu untuk bekerja keras.
·
Memiliki pajangan tentang
slogan atau motto tentang kerja.
|
· Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
· Menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.
· Mencipatakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja.
· Memiliki
pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar.
|
|
F.
Kreatif
|
·
Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif
|
· Pemberian
tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang autentik maupun modifikasi.
· Menciptakan situasi belajar yang bisa
menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif.
|
|
G. Mandiri
|
· Menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik
|
· Menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk bekerja mandiri
|
|
H. Demokatis
|
· Melibatkan warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan.
·
Menciptakan suasana sekolah yang menerima perbedaan.
· Pemilihan kepengurusan OSIS secara terbuka.
|
· Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.
· Pemilihan
kepengurusan kelas secara terbuka.
· Seluruh
produk kebijakan melalui musyawarah
dan mufakat.
· Mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan
interaktif.
|
|
I.
Rasa
Ingin Tahu
|
· Menyediakan
media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik) untuk
berekspresi bagi warga sekolah.
· Memfasilitasi
warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan,
teknologi, dan budaya.
|
· Menciptakan
suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu.
·
Eksplorasi lingkungan secara
terprogram.
· Tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak atau media
elektronik).
|
|
J.
Semangat
Kebangsaan
|
· Melakukan upacara rutin sekolah.
· Melakukan upacara hari-hari besar nasional.
· Menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional.
·
Memiliki program melakukan
kunjungan ke tempat bersejarah.
· Mengikuti lomba pada hari besar nasional.
|
·
Bekerja sama dengan teman
sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial-ekonomi.
· Mendiskusikan hari-hari besar nasional.
|
|
K.
Cinta
Tanah Air
|
· Menggunakan produk buatan dalam negeri.
·
Menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar.
·
Menyediakan informasi (dari sumber cetak, elektronik) tentang
kekayaan alam dan budaya Indonesia.
|
·
Memajangkan: foto presiden dan
wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar
kehidupan masyarakat Indonesia.
· Menggunakan produk buatan dalam negeri.
|
|
L.
Menghargai
Prestasi
|
· Memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah.
· Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.
|
· Memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik.
·
Memajang tanda-tanda
penghargaan prestasi.
· Menciptakan
suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.
|
|
M.
Bersahabat/
komuniktif
|
· Suasana
sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antarwarga sekolah.
· Berkomunikasi
dengan bahasa yang santun.
· Saling
menghargai dan menjaga kehormatan.
· Pergaulan
dengan cinta kasih dan rela berkorban.
|
· Pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik.
· Pembelajaran yang dialogis.
·
Guru mendengarkan
keluhan-keluhan peserta didik.
· Dalam
berkomunikasi, guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik.
|
|
N.
Cinta
Damai
|
· Menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tenteram, dan harmonis.
· Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
·
Membiasakan perilaku warga
sekolah yang tidak bias gender.
· Perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang.
|
· Menciptakan suasana kelas yang damai.
· Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
·
Pembelajaran yang tidak bias
gender.
· Kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.
|
|
O.
Gemar
Membaca
|
· Program wajib baca.
·
Frekuensi kunjungan
perpustakaan.
·
Menyediakan fasilitas dan
suasana menyenangkan untuk membaca.
|
· Daftar buku atau tulisan yang dibaca peserta didik.
· Frekuensi kunjungan perpustakaan.
· Saling tukar bacaan.
·
Pembelajaran yang memotivasi
anak menggunakan referensi,
|
|
P.
Peduli
Lingkungan
|
· Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
· Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan.
· Menyediakan
kamar mandi dan air bersih.
· Pembiasaan hemat energi.
· Membuat biopori di area sekolah.
· Membangun
saluran pembuangan air limbah dengan baik.
· Melakukan
pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.
· Penugasan
pembuatan kompos dari sampah organik.
· Penanganan
limbah hasil praktik (SMK).
· Menyediakan
peralatan kebersihan.
·
Membuat tandon penyimpanan air.
· Memrogramkan
cinta bersih lingkungan.
|
· Memelihara
lingkungan kelas.
· Tersedia
tempat pembuangan sampah di dalam kelas.
·
Pembiasaan hemat energi.
· Memasang
stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan
apabila selesai digunakan (SMK).
|
|
Q.
Peduli
Sosial
|
· Memfasilitasi kegiatan bersifat sosial.
·
Melakukan aksi sosial.
·
Menyediakan fasilitas untuk
menyumbang.
|
· Berempati kepada sesama teman kelas.
·
Melakukan aksi sosial.
· Membangun
kerukunan warga kelas.
|
|
R. Tanggung jawab
|
· Membuat
laporan setiap kegiatan yang dilakukan
dalam bentuk lisan maupun tertulis.
·
Melakukan tugas tanpa disuruh.
· Menunjukkan
prakarsa untuk mengatasi masalah dalam lingkup terdekat.
· Menghindarkan
kecurangan dalam pelaksanaan tugas.
|
· Pelaksanaan
tugas piket secara teratur.
· Peran serta
aktif dalam kegiatan sekolah.
· Mengajukan
usul pemecahan masalah.
|
Sumber:
Kementrian
Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum Tahun
2010.
Peneliti
menetapkan beberapa Indikator yang digunakan dalam penelitian ini, sesuai
kondisi dan keadaan sekolah tempat penelitian dilaksanakan, yaitu sebagai
berikut:
Tabel 3.2 Indikator Keberhasilan
Pendidikan Karakter
|
No
|
Nilai
Karakter
|
Indikator
|
|
|
1.
|
Religius
|
Memberikan
Kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
|
|
|
2.
|
Jujur
|
1. Larangan
Menyontek
2. Menyediakan
fasilitas tempat temuan barang hilang.
|
|
|
3.
|
Toleransi
|
1. Bekerja
dalam kelompok yang berbeda.
2. Memberikan
perlakuan yang sama terhadap stakeholder.
|
|
|
4.
|
Disiplin
|
1. Membiasakan
hadir tepat waktu.
2. Membiasakan
Mematuhi peraturan
|
|
|
5.
|
Kerja
Keras
|
1.
Menciptakan suasana belajar yang
memacu daya tahan kerja.
2.
Memiliki pajangan tentang slogan atau
motto tentang giat bekerja dan belajar
|
|
|
6.
|
Kreatif
|
Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya pikir
dan bertindak kreatif.
|
|
|
7.
|
Mandiri
|
Menciptakan
suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja
mandiri
|
|
|
8.
|
Demokratis
|
Melibatkan
siswa dalam setiap pengambilan keputusan pemilihan ketua OSIS maupun ketua
kelas
|
|
|
9.
|
Rasa
Ingin Tahu
|
Menciptakan
suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu
|
|
|
10.
|
Semangat Kebangsaan
|
Melakukan upacara rutin sekolah.
|
|
|
11.
|
Cinta
Tanah Air
|
1.
Menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar.
2.
Memajang: foto presiden dan wakil
presiden, bendera negara, lambang negara.
|
|
|
12.
|
Menghargai
Prestasi
|
1.
Memberi penghargaan kepada siswa yang
berprestasi
2.
Menciptakan suasana pembelajaran untuk
memotivasi peserta didik berprestasi
|
|
|
13.
|
Bersahabat/
komuniktf
|
Suasana
kelas yang memudahkan terjadinya interaksi guru dan siswa
|
|
|
14.
|
Cinta
Damai
|
1.
Menciptakan suasana kelas yang damai.
2.
Membiasakan perilaku warga sekolah
(kelas) yang anti kekerasan.
|
|
|
15.
|
Gemar
Membaca
|
Frekuensi
kunjungan perpustakaan.
|
|
|
16.
|
Peduli
Lingkungan
|
1.
Tersedia tempat pembuangan sampah.
2.
Menyediakan kamar mandi dan air
bersih.
|
|
|
17.
|
Peduli
Sosial
|
Berempati kepada sesama siswa
|
|
|
18.
|
Tanggung
Jawab
|
1.
Melakukan tugas tanpa disuruh.
2.
Pelaksanaan tugas piket secara
teratur.
|
Sumber: Indikator yang digunakan Peneliti
BAB III
METODE
PENELITIAN
A.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian yang
dilakukan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif, atau biasa juga disebut
penelitian non-experimen karena tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel
penelitian. Pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, pendekatan ini sumber data yang diperoleh dalam
penelitian dijelaskan berdasarkan interpretasi
data secara tertulis dengan uraian kata-kata.
Pendekatan ini dilakukan dengan metode observasi,
wawancara, dan dokumentasi serta pihak yang menjadi informan atau responden
penelitian secara subtantif mewakili keadaan sesuai kebutuhan penelitian baik
kepada siswa, guru, dan warga sekolah lainnya termasuk komite sekolah.
Menurut Bogdan dan Taylor (1982:
21-22) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif: ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari
orang-orang (subyek) itu sendiri.
Definisi yang sejalan dengan pendapat tersebut disampaikan
Nazir (1988: 63-64) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah sebagai berikut:
Suatu metode dalam meneliti status
sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran,
ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian
deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara
sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan
antar fenomena yang diselidiki.
Pandangan yang senada disampaikan pula
oleh Nawawi (1991: 63) yang mengemukakan bahwa “metode deskriptif diartikan
sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan,
melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan
lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau
sebagaimana adanya”.
Sudarwan (2002: 60) mengatakan bahwa
beberapa ciri utama yang menonjol dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.
Sumber data langsung berupa tata situasi alami dan peneliti
adalah instrument kunci.
2.
Bersifat deskriptif.
3.
Lebih menekankan pada makna proses
ketimbang hasil.
4.
Analisis data bersifat induktif.
5.
Makna merupakan perhatian utama dalam
pendekatan penelitian.
Penelitian
deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala,
fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai
sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Dalam penelitian deskriptif
cenderung tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan dan menguji
hipotesis (Nurul Zuriah, 2006: 47).
Menurut
Sukardi (2003: 157) dalam penelitian deskriptif dilakukan pengumpulan data
untuk mengetes pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan kejadian sekarang.
Peneliti melaporkan keadaan objek yang diteliti
sesuai dengan apa adanya.
Tujuan
utama dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara sistematis fakta
dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. Metode deskriptif
sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan
bidang sosial, humaniora dan pendidikan, serta tingkah laku manusia.
B. Penetapan Unit Analisis
Black dan
Champion dalam Herlina (2011: 20) mengatakan bahwa:
Perencanaan sampling non-probabilitas tidak mengukur
sejauh mana karakteristik sampel mendekati parameter populasi induknya sehingga
dalam kenyataannya, peneliti pada umumnya tidak dapat mengidentifikasi populasi
induk sama sekali. Oleh karena itu dalam perencanaan sampling non-probabilitas
sampel yang diambil tidak dapat digeneralisasikan pada populasi tempat sampel
tersebut diambil.
Dari
pendapat yang dikemukakan di atas maka pendekatan yang digunakan, dalam penelitian ini tidak ada pengertian
populasi. Dalam penelitian kualitatif istilah populasi tidak perlu, karena
peneliti tidak akan menggeneralisasikan hasil peneliti. Peneliti hanya memulai
dengan asumsi bahwa konteks lebih penting daripada jumlah. Oleh karena itu,
peneliti tidak akan menghitung proporsi sampel yang dipandang lebih
representative. Tujuan penyampelan tidak untuk mendapatkan kesamaan data dapat
digeneralisasikan akan tetapi untuk mendapat kesamaan dan keunikan-keunikan.
Sampel dapat berupa peristiwa, manusia, situasi dan sebagainya. (Suwardi
Endraswara, 2003: 206).
Penetapan
unit analisis dalam penelitian ini menggunakan tekhnik penyampelan model snow-ball sampling. Dimana peneliti
mencari relawan di lapangan, yaitu orang-orang yang mampu diajak berbicara dan
dari mereka data akan diperoleh. Dari mereka pula akan ada penambahan sampel
dan atau subjek, atas rekomendasinya itu, peneliti segera meneruskan ke subjek
yang lain. Jumlah sampel tidak ada batas minimal atau maksimal, yang penting
telah memadai dan mencapai “data jenuh”, yaitu tidak ditemukan informasi baru
lagi dari subjek penelitian.
Penentuan informan
dilakukan dengan menggunakan jaringan, yakni berdasarkan informasi yang
diperoleh dari kepala sekolah, guru, dan orang-orang yang terlibat dalam
instansi sekolah. Melalui jaringan ini akan dipilih informan yang memenuhi
kriteria yang diberikan Spradley dalam Suwardi Endraswara, (2003: 206), yaitu:
(1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak
dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SD
Inpres 1 Talise terletak di kecamatan Palu timur yang terletak di Jl.
Tombolotutu, merupakan sekolah yang sudah mencanangkan pendidikan karakter di
bulan November tahun 2011. Meskipun
disetiap ruangan, baik di dalam maupun di luarnya, dihiasi dengan kata-kata
mutiara, semboyan,dan media pembelajaran lainnya yang sesuai. Namun Peneliti
merasa belum cukup dalam mencerminkan pendidikan yang berkarakter. Melihat
siswa belum memperlihatkan sikap yang berkarakter baik, dan pemahaman guru
mengenai konsep pendidikan karakter masih kurang sehingga belum maksimalnya
pendidikan karakter diterapkan kepada siswa. Hal ini dilihat dari perilaku siswa
di SD Inpres 1 Talise belum memperlihatkan karakter baik secara optimal.
Alasan-alasan inilah yang menjadikan peneliti tertarik untuk memilih
lokasi tersebut untuk meneliti dan menganalisis
kebutuhan pendidikan karakter.
D. Sumber Data
Penelitian ini
menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil
wawancara dengan responden penelitian, dan data dari lembar pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti. Data dalam penelitian ini berbentuk deskriptif, yang
diperoleh dari data lembar observasi tentang
kebutuhan pendidikan karakter selama
pelaksanaan penelitian.
Data yang diperoleh dari memilih
informan dengan teknik bola salju (snow
ball). Penarikan sampel pola ini Sudarwan (1997: 98) mengatakan bahwa
“diawali dengan penentuan sampel pertama. Sampel berikutnya ditentukan
berdasarkan informasi sampel petama, dan demikian seterusnya. Dengan penarikan
sampel bola salju, peneliti secara teoritis akan ‘menghadapi’ jumlah sampel
yang tidak terhingga”.
E. Prosedur Pengumpulan Data
Sesuai
dengan permasalahan dalam penelitian ini, yakni ingin menganalisis kebutuhan
pendidikan karakter, maka dalam memilih instrumen sebagai alat pengumpul data
peneliti kembali mengacu kepada pendapat Guba yang dikutip oleh Herlina (2011:
22-23). “Instrumen penelitian tidak bersifat eksternal atau obyektif melainkan,
subjektif, yaitu peneliti sendiri tanpa menggunakan test, angket atau
eksperimen. Instrumen dengan sendirinya
tidak berdasarkan definisi operasional”.
Berdasarkan
itu, maka instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat
bantu pengumpul data berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, dan
dokumentasi.
1) Wawancara
Wawancara yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru
serta siswa yang ada di sekolah tersebut. Wawancara digunakan untuk
mengumpulkan data berkaitan dengan sikap dan pandangan para guru mengenai
pendidikan yang berkarakter, dan nilai-nilai karakter yang relevan di SD Inpres
1 Talise.
2) Observasi
Observasi dalam
penelitian ini dimaksudkan untuk mengamati secara langsung kondisi yang terjadi
disekolah. Peneliti melakukan pengamatan secara cermat terhadap kondisi dan
prilaku subjek. Selanjutnya peneliti dapat menggali lebih jauh data-data yang
dibutuhkan melalui kepala sekolah, guru, staf, dan siswa.
Teknik ini menuntut
peneliti lebih banyak memainkan peran pada situasi yang sama atau berbeda.
Selanjutnya data observasi dapat dibandingkan dengan data hasil wawancara,
apabila terdapat perbedaan maka dapat dikonfrontasi melalui hasil pengamatan
peneliti.
3) Dokumentasi
Analisis dokumentasi
dilakukan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen I dan dokumen II.
Dokumen I kurikulum (antara lain visi, misi, dan tujuan sekolah) dan dokumen II
(silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran).
Dokumen dalam
penelitian sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan
unruk meramalkan. Dokumen digunakan untuk keperluan penelitian karena alasan
dokumen merupakan salah satu hal yang penting dalam memahami obyek penelitian.
Bahkan, literatur-literatur yang relevan dimasukan pula dalam kategori dokumen
yang mendukung penelitian ( Gulo, 2007: 123).
F. Analisis Data
Data
yang telah dikumpulkan sebagai hasil wawancara dan observasi yang tersusun
dalam bentuk catatan lapangan hasil wawancara dan catatan lapangan hasil
obsevasi, kemudian dianalisis melalui tiga tahapan kegiatan yang terjadi secara
bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan/verifikasi Miles dan Huberman dalam Imam Suprayogo (2001: 195-197)
1.
Reduksi data
Reduksi
data dilakukan sebagai proses memilih, meyeleksi data, menyederhanakan dan
transformasi data kasar yang terdapat dalam catatan lapangan. Reduksi data
ditujukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang
tidak dibutuhkan serta mengorganisasi data sesuai dengan kebutuhannya.
2.
Penyajian Data
Penyajian data yang dimaksud adalah
penyusunan sekumpulan data yang telah direduksi yang memberi kemungkinan adanya
penarikan kesimpulan. Tindakan penyajian data dilakukan dalam bentuk dalam kata-kata
atau kalimat.
3. Penarikan
Kesimpulan/Verifikasi
Penarikan kesimpulan akhirnya dapat
dilakukan setelah data tersusun dalam sajian data. Verifikasi sangat penting
dilakukan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuat untuk memperoleh
validitas data.
Ketiga
alur kegiatan ini akan berlangsung terus menerus sepanjang penelitian
berlangsung dan merupakan siklus yang interaktif sehingga setiap kesimpulan
yang ada bukanlah merupakan kesimpulan akhir, sampai penelitian berakhir.
Read Users' Comments (0)






